Transformasi Arsitektur Rumah Ibadah: Menyelaraskan Tradisi dan Inovasi


Transformasi arsitektur rumah ibadah merupakan sebuah proses yang penting dalam menyelaraskan tradisi dan inovasi. Dalam perkembangan zaman, arsitektur rumah ibadah juga mengalami perubahan yang signifikan demi memenuhi kebutuhan umat dalam beribadah.

Menurut Prof. Dr. Haryo Winarso, seorang pakar arsitektur dari Universitas Indonesia, transformasi arsitektur rumah ibadah tidak hanya sekedar tentang pembangunan fisik, namun juga melibatkan nilai-nilai keagamaan dan budaya yang melekat dalam masyarakat. “Proses transformasi ini harus dilakukan dengan cermat agar tidak melupakan akar tradisi yang telah ada sebelumnya,” ujar Prof. Haryo.

Salah satu contoh transformasi arsitektur rumah ibadah yang berhasil adalah Masjid Salman ITB di Bandung. Masjid ini berhasil menggabungkan elemen tradisional Sunda dengan sentuhan modern yang inovatif. Menurut arsitek Masjid Salman ITB, Budi Sukada, proses transformasi ini dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan umat serta menghormati nilai-nilai lokal yang ada.

Dalam proses transformasi arsitektur rumah ibadah, penting bagi para arsitek dan desainer untuk memahami peran mereka sebagai penghubung antara tradisi dan inovasi. Menurut Arsitek Muda, Ria Asih, “Melalui transformasi arsitektur rumah ibadah, kita dapat menciptakan ruang yang nyaman bagi umat dan sekaligus memperkaya nilai-nilai budaya dan agama yang ada.”

Dengan demikian, transformasi arsitektur rumah ibadah bukanlah sekedar tentang membangun gedung baru, namun lebih dari itu, ia merupakan sebuah upaya untuk menyelaraskan tradisi dan inovasi demi menciptakan ruang yang harmonis bagi umat beribadah. Semoga proses transformasi ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi seluruh umat.